ART

REVIEW GUNDALA: BERPOTENSI MENJADI CANDU

Tak mau kalah dengan deretan film superhero Hollywood baik Marvel maupun DC Comics, Indonesia juga punya jagoan dari Bumilangit Cinematic Universe. Memulai jilid pertamanya dengan hadirnya Film Gundala: Negeri Ini Butuh Patriot di bulan September 2019, film ini layak mendapatkan kompor gas!

Gundala menjadi taruhan untuk sukses tidaknya deretan film selanjutnya lansiran Bumilangit. Berhasilkah?


Film bergenre Action/Crime/Drama ini punya potensi besar untuk menjadi candu. Seperti halnya para penggemar marvel yang selalu mengikuti setiap film semestanya. Film pembuka semesta Bumilangit ini memiliki kekuatan cerita yang mumpuni. Cerita yang kompleks tentang carut-marut politik, kehidupan sosial yang keras, konflik antara elit politik dan mafia yang mengorbankan warga sipil dan kelahiran superhero  dikemas sangat apik oleh Joko Anwar. Luar biasa, kalian harus nonton!

Sancaka (Abimana Aryasatya), Pic: Bumilangit Cinematics Universe

Lalu apa unsur menarik dari Film Gundala 2019?

1. Plot

Sutradara Joko Anwar merumuskan konflik yang cukup berat untuk ukuran film superhero audience 13+. Bagi remaja mungkin akan berasa berat mencerna esensi film ini. Tapi joke encer yang dibuat cukup membantu penonton muda menjadi cair dan menikmati film, sesekali mereka tertawa lepas.

Berdurasi 123 menit dengan plot maju mundur. Dimulai dengan kisah orang tua Sancaka (Abimana Aryasatya) dalam kehidupan yang keras dan sulit dalam lingkungan rumah yang kumuh, buruh, pabrik, pergerakan masa, menantang penguasa. Kemudian semakin mengerucut ke kisah Sancaka kecil hingga dewasa. Menemukan konflik sosial, keberanian membantu yang lemah, menjadi superhero hingga membasmi musuh. Di sela alur cerita, Joko Anwar beberapa kali membuat plot yang kembali mundur ke belakang kembali pada masa kecil Sancaka yang sangat getir & kelam. Cerita yang maju mundur tersebut sebenarnya membantu penegasan karakter beberapa tokoh sentral seperti Sancaka & Pengkor. Plotnya berkelok namun masih enak dinikmati.

Meski film superhero, namun kekuatan drama dalam film ini berasa lebih kental dibanding action atau adegan baku hantamnya. Special-effects dan permainan CGI tidak berlebihan malah cukup proporsional.

Tak seperti film superhero Hollywood pada umumnya yang biasanya menyebut jelas lokasi, kota, bahkan nama planet, Gundala tidak menunjukkan waktu dan tempat secara spesifik. Namun jika kita melihat elemen di dalamnya seperti mobil, bangunan, baju maka bisa disimpulkan kejadian pada tahun 2000an atau masa kini.

Gundala: Musuhnya kebanyakan!

2. Action

Dalam elemen laga, Gundala didominasi dengan duel dan tawuran. Indonesia-nya berasa banget dengan gaya tarung jalanan. Sesekali khas bela diri Indonesia muncul karena ada keterlibatan Cecep Arif Rahman sebagai koreografer adegan action. Meski tak setaktis dan sepadat di film-film action Indonesia lainnya seperti The Raid, adegan duel di Gundala cukup mumpuni dalam porsinya. Bagi penggemar film laga, mungkin Brader akan merasa kurang puas. Perlu diingat, dengan keterlibatan Joko Anwar harusnya sudah bisa kita tebak bahwa adegan pertarungan bukan prioritas.

Pertarungan klimaks berasa terlalu singkat dan begitu mudahnya musuh dikalahkan, padahal Gundala punya terlalu banyak musuh yang masing-masing punya karakter kuat tapi begitu mudahnya mereka dilempar dan tersengat listrik. Di 30 menit terakhir berasa tergopoh-gopoh seolah buru-buru menuntaskan cerita.

Dengan bekal kekuatan profile Sancaka/Gundala, sebenarnya film ini punya potensi untuk dieksploitasi menjadi film yang lebih aksi. Mirip seperti Daredevil versi Netflix.

3. Budaya, Politik, dan Sosial

Di sinilah kekuatan film ini. Joko Anwar telah berhasil merubah kisah asli dari komiknya menjadi cerita yang lebih realistis dan kekinian. Terlebih relevan dengan kondisi Indonesia zaman now khususnya pada kehidupan masyarakat ekonomi bawah. Mengangkat kompleksitas konflik elite politik, mafia, buruh, dan rakyat seolah film ini mencoba menyentil banyak lapisan masyarakat di Indonesia. Isu Politik dan Sosial sangat dominan.

Menariknya, di akhir film menunjukkan konektisitas masa kini dan jaman kuno menggunakan budaya jawa sebagai medianya. Adalah ketika Ghani Zulham (Ario Bayu) membangkitkan Ki Wilawuk (Sujiwo Tejo) menggunakan tetesan darah Gundala, dibalik tembok bertuliskan aksara jawa. Mereka pun berbicara menggunakan bahasa jawa kuno. Mungkin menjadi sinyal bahwa akan ada film selanjutnya yang menghubungkan Gundala dengan legenda kuno. Menarik kan?

Film Gundala berkesempatan tayang di Toronto International Film Festival 2019, artinya menjadi peluang yang menarik untuk memicu dunia mengenal lebih lanjut tentang Indonesia. Jagat Bumilangit telah memegang banyak sekali lisensi tokoh komik asli Indonesia. Superheronya punya keunikan yang kuat karena memiliki unsur legenda dan mitos yang berbeda dari superhero lainnya.

Untuk diketahui, komik “Gundala Putra Petir” terbit pertama pada tahun 1969 karya Harya Suraminata atau Hasmi berakhir dalam 23 judul pada tahun 1982. Sedangkan Filmnya pertama tayang pada tahun 1981 dengan judul yang sama, Gundala Putra Petir.

4. Teka-teki dan Post Credit

Gundala menimbulkan banyak pertanyaan yang membuat penonton menebak-nebak kisah apa selanjutnya yang akan terjadi.

Di awal film diceritakan skill berantem Sancaka didapat dari Awang. Awang adalah anak yang menyelamatkan Sancaka ketika dikeroyok. Awanglah yang membuat Sancaka jadi lebih berani. Sayangnya mereka terpisah karena Sancaka tidak berhasil melompat di kereta yang membawa Awang pergi ke Tenggara.

Nasib Awang menjadi tanda tanya karena ada teori bawah Awang menjadi superhero bernama Godam. Padahal kalau dari komiknya, Godam berasal dari dunia yang berbeda. Jadi?

Kemudian di akhir film, tiba-tiba ada seorang wanita super yang menggulingkan mobil pembawa serum. Terguling berantakan dengan sekali tebas, wow ini lebih kuat dibanding Gundala. Dalam post-credit diketahui bahwa wanita super itu adalah Sri Asih (Pevita Pearce)

Di tengah banyak kritik dan pujian, Film Gundala telah berhasil menjadi film pembuka semesta Bumilangit jilid 1 yang cakep. Layak menjadi candu, seperti kebanyakan penggemar film marvel atau DC comics yang sayang untuk dilewatkan setiap chapternya. Dukung film superhero Indonesia!  

Terakhir, beriktu kutipan dari Pengkor yang menarik,

Apa yang berbahaya adalah simbol Harapan. Harapan bagi rakyat adalah candu. Dan Candu itu bahaya,

— Pengkor

Semoga Gundala & deretan film Bumilangit selajutnya menjadi candu yang positif mendukung kekayaan perfilman di Indonesia!

0 comments on “REVIEW GUNDALA: BERPOTENSI MENJADI CANDU

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: