KOMPONEN SEPEDA GUNUNG CANGGIH (GAK) CANGGIH

Hub jangkrik, pedal bearing, pelk (rim) double wall jadi resep wajib untuk racikan komponen sepeda Brader. Status barang berkualitas dan canggih menempel di komponen tersebut. Tapi banyak orang menyebut saat ini sebagai era disrupsi. Hal-hal yang sudah mapan digantikan oleh hal-hal baru yang lebih efisien. Demikian pula dengan komponen sepeda.

Hub jangkrik misalnya, sebutan untuk hub bersuara keras sebagai akibat dari tumbukan pelatuk dan gigi matahari internal hub, sebentar lagi menjadi korban dari disrupsi sepeda gunung. Setelah trend suara keras dari kekuatan per pelatuk, tren berubah ke nada tinggi seperti yang dihasilkan hub Industry 9. Nada yang lebih tinggi diakibatkan banyaknya titik koneksi (point of engagement/POE). Industry 9 mengklaim freehub Hydranya mempunyai 690 POE atau hampir 2 klik koneksi tenaga per derajat putaran hub.

Teknologi Scyclence dari Shimano yang meniadakan gesekan tanpa menimbulkan suara

Selain nada tinggi, tren baru kemungkinan malah menghilangkan sekalian suara hub. Ini tergantung dari kesuksesan Shimano menjual hub XTR 9100 barunya. Teknologi Scylence yang digunakan hub kasta paling atas ini menggunakan dua driver plate yang akan sama sekali lepas saat Brader coasting. Shimano menjanjikan driver plate akan terhubung saat sepeda dikayuh dalam 7,6°, atau 47 POE atau setara dengan freehub high end lain. Terlepasnya driver plate saat coasting berarti tidak ada gesekan yang terjadi, atau dalam bahasa awamnya, lebih loncer.

Komponen lain yang menarik dirilis tahun ini di Taiwan Bicycle Show oleh TOR Components. Selain stem dan thru axle, TOR juga merilis pedal. Uniknya pedal TOR ini tidak menggunakan bearing untuk memutar pedal. Tidak menggunakan bearing di sini bukan hanya “sealed cartridge bearing”, tapi juga “loose bearing” yang sering dianggap Brader sebagai “belum bearing”. TOR menggunakan bushing supaya pedal bisa berputar di bawah kaki Brader. Hasilnya, TOR bisa menekan bobot hingga hanya 330 gram, dan profil yang sangat tipis. TOR tidak mengumumkan ketebalan pedal ini, tapi pengamatan Braderian, bodi pedal TOR ini lebih tipis dari as pedal yang berukuran 14mm.

Pedal tanpa bearing dari TOR Cycling

TOR bukanlah produsen pedal tanpa bearing pertama. Sebelumnya E13 sudah merilis pedal E13 LG1+ yang juga berputar menggunakan bushing begitu pula beberapa merk private label sudah beredar. Inovasi TOR adalah penggunaan bushing setengah lingkaran (split bushing) yang sangat memudahkan penggantian bushing saat aus, dan memudahkan kotoran untuk terbuang dari bidang geser bushing. Dengan desain split bushing, pedal TOR tidak membutuhkan kunci khusus untuk memperbaiki pedalnya, cukup menggunakan kunci Allen biasa yang ada di toolkit.

Komponen terakhir yang Braderian bahas di sini adalah roda (wheel) single wall atau dinding tunggal. Umumnya roda sepeda menggunakan konstruksi double wall atau dinding ganda. Konstruksi double wall memungkinkan pelk yang kuat dan mengurangi kebocoran ban dalam akibat tusukan jari-jari. Pelk singlewall umumnya Brader temui di sepeda kelas bawah, tapi rilisan terbaru 3ZeroMoto dari Zipp menghindari pakem ini. Roda karbon yang dijual seharga $2.000 atau $700 untuk pelk (rim) ini menggunakan desain single wall.

Apakah Zipp terinspirasi dari sepeda murah untuk menghadirkan performa di kelas high end? Rupanya inspirasi Zipp datang dari pelk motocross. Berbeda dengan sepeda, pelk motocross dibuat dengan konstruksi single wall, dari motor trail kelas paling bawah hingga motor pabrikan yang berlaga di kejuaraan dunia. Konstruksi single wall membuat pelk bisa sedikit melentur dan memungkinkan pelk mengikuti kasarnya track. Zipp menyebutnya “ankle compliance” atau fleksibel seperti pergelangan kaki. Brader bisa amati telapak kaki manusia bergerak fleksibel dari satu sisi ke sisi lain di pergelangan kaki, ini sifat yang ditiru Zipp untuk kembali ke pasar roda sepeda gunung. Kenapa pelk sepeda sebelumnya tidak menggunakan konstruksi single wall? Kebutuhan ringannya pelk sepeda membuat material Aluminum yang ada tidak cukup kuat untuk menahan fleksibilitas pelk dengan konstruksi single wall. Dengan maraknya penggunaan karbon sebenarnya hal ini dapat diatasi dengan sifat anisotropik karbon. Berbeda dengan aluminum dan logam lainnya, kekuatan dan kelenturan karbon bisa berubah seiring dengan bagaimana lembaran serat karbon disusun saat dicetak. Konstruksi yang dianggap tidak mungkin dilakukan dengan aluminum ini menjadi mungkin saat material yang digunakan berbeda.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: