REVIEW:PACIFIC AVENGER 5.0 2019

Tahun 2019 dibuka oleh Pacific dengan rilisan terbaru mereka dan kebetulan Braderian berkesempatan melihat launching produk terbaru mereka beberapa waktu yang lalu, rilisan frame sepeda berbahan carbon kali ini menjadi concern terbaru mereka dan telah rilis di penghujung 2018 kemarin. Nah kali ini Braderian berkesempatan menjajal sepeda tipe Avenger 5.0 yang merupakan pengembangan lanjutan dari sepeda carbon Pacific yang dipakai oleh atlet MTB Indonesia di Asian Games beberapa waktu yang lalu.Pacific Avenger 5.0 ini merupakan seri tertinggi dari seri Avenger yang juga dirilis dalam format frameset only bulan lalu, dibawahnya ada seri 3.0 dengan balutan warna dan komponen yang berbeda tapi tetap Carbon. Unit test yang kami terima kali ini memiliki size 17″ atau M dan merupakan size terbesar setelah S/16″ dengan ukuran roda 27.5 dan mereka masukkan ke genre XC Race karena mengingat bahan frame dan beberapa komponen yang juga “race banget”.Frame berwarna hitam merah dengan finishing doff ini memiliki spek carbon UD/unidirectional carbon sehingga tekstur serat-serat carbon tidak terlihat dan tetap mempertimbangkan beberapa bagian di frame yang mengalami penebalan dan penipisan di bagian yang tak terlalu banyak menerima beban. Nice! Untuk sektor bottom bracket Pacific memakai sistem drat yang tentu menyematkan bahan alloy sehingga bobot sedikit lebih berat jika dibandingkan dengan sistem pressfit yang mengeliminasi bahan lain selain carbon di frame.Model toptube di frame ini kami menyukainya, karena posisinya yang sejajar dengan headtube frame dan menyambung dengan seatstay dipadu dengan lebarnya jarak/clereance di bagian ujung seatstay dan chainstay yang menyambung dengan seattube. Karena ini akan memberikan banyak ruang untuk lumpur tak terlalu mengumpul di bagian ini, dan itu telah kami uji di trek xc berlumpur parah sejauh 3km tanpa kendala stuck/macet ban belakang karena lumpur.Suspensi depan diakomodir oleh Rockshox XC30 spring medium 100mm tappered yang tentu memiliki bobot yang cukup lumayan namun feel dari suspensi ini cukup nyaman, karakter Rockshox juga karena kami juga sedikit banyak paham feel damper dari brand ini. Cukup smooth dengan fitur lock dan preload yang sederhana sebagai pengganti rebound namun cukup memberikan feel yang bagus di medan berbatu dan jika dibandingkan dengan seri 3.0 yang memakai Suntour XCM kami rasa feel XC30 ini jauh diatas XCM, kalau bobot mungkin 11 12. Kami menjajal setingan preload di posisi tengah di turunan panjang berbatu, feelnya sangat enak dan brader akan tak mengira lembut dampernya mirip dengan air fork. Yaaa karena beberapa goweser masih memandang sebelah soal spring fork dibanding air fork yang menurut mereka lebih enak. Its ok!Lanjut ke sektor drivetrain, Pacific menghadirkan sistem penggerak dari brand Shimano sebagai piranti di sepeda ini, campur-campur walau lebih dominan Shimano Deore M6000 dengan sistem percepatan 10 dipadu dengan profil sprocket 11-42T dan crankset dual speed 22-34T di bagian depan, namun cukup mengherankan kami karena pemilihan rd Shimano Deore XT tipe M786 long cage version yang sedikit memiliki kendala ketika mengoper di bagian atas sprocket, seringnya membentur bagian dalam Rd dengan sprocket walaupun bisa kami reduksi dengan setup shifting agar tak terjadi terlalu sering, namun masih ditemui gejala ini. Mengingat seri RD ini belum spesifik support sprocket besar 42T (coba cek pembandingan dengan rd deore 10speed terbaru, lengan ayun sedikit lebih panjang bukan?). Namun overall dipadu dengan shifter deore dan fd sideswing deore mampu memberikan handling dan shifting yang cukup bagus.Sektor roda diisi lineup yang cukup excited untuk kami uji, terutama di bagian ban. Pacific memasang Michelin Country Race 27.5×210 dengan tipe all round dan knob ban yang sedikit rapat namun masih bisa mengakomodir jalur berlumpur karena entah kenapa ban ini mudah melepas lumpur jika digowes dengan speed tertentu, namun kami tak terlalu kesulitan di medan batuan licin karena grip yang diberikan cukup impresif. Tipe ban ini bukan foldable tapi cukup durrable dengan bobot yang tak terlalu bengkak lah. Dan untuk rims memakai own brand Pacific dengan lebar 22mm dipadu hubset shimano deore yang lumayan untuk handling walaupun bisa di up kalau berminat ke lineup diatasnya, oh iya sistem pengunci kedua roda masih memakai qr 10mm depan belakang jadi banyak alternatif untuk upgrade nih.Soal kokpit di sepeda ini cukup menarik mata, karena sekilas tampilannya seperti stem, handlebar, seatpost sampai topcap stem berbalut carbon walaupun setelah kami cek ternyata hanya carbon cover finishing saja. Its ok tapi cukup memberi kesan mewah di sepeda ini, tetap memakai ownbrand Pacific dipadu dengan sadel Fizik Antares berprofil minimalis. Oh iya untuk personal rasanya stem 100mm dipadu flatbar 700mm tanpa backsweep kami merasakan kurang cocok karena style riding kami berbeda, wajar sih brader dan bisa brader pakai opsi preferensi lain untuk ini, namun overall part kokpit tersebut mampu mendongkrak tampilan sepeda dan peforma yang tak terlalu minus juga.Dan terakhir dari sisi braking, Pacific mempercayakan brake shimano non series dengan brake rotor 180 depan dan 160 di belakang, cukup memberikan brake power mumpuni di lintasan XC dan untuk kebutuhan race masih mumpuni lah.

RIDE ON!

Kami mencoba sekitar sebulan dengan variatif trek yang beragam mulai xc ringan, aspal mulus sampai teknikal. Riding diatas sepeda ini pertama kali kami memang harus menyesuaikan dengan setup riding kami, penyesuaian tinggi seatpost dan reach brake shifter (preferentif). Kami mencoba di trek xc ringan dengan beberapa section teknikal berupa tanjakan dan turunan ringan. Cukup ringan dan stiff khas sepeda berframe carbon, untuk nanjak handling pas dan turunan cukup memberikan absorb di bagian belakang sehingga tak terlalu berguncang dan inilah kelebihan frame carbon, tetap kaku namun di beberapa bagian flex untuk mereduksi impact dan getaran tanpa mengurangi esensi power pedaling. Nice.

Kebetulan bawaan fullbike memakai pedal flat dan kami memang tidak memakainya dan ganti dengan pedal cleat Time XC Carbon yang tentu mereduksi bobot sedikit lebih ringan walau masih di angka 12kg an. Cukup berbobot menurut kamu untuk ukuran Sepeda carbon, namun brader bisa menguranginya dengan upgrade beberapa piranti untuk mereduksi bobot karena kami menduga bobot terbesar dikontribusikan fork XC30 dari Rockshox di sepeda ini. Namun untuk bobot bawaan fullbike tak terlalu terasa kok ketika diajak nanjak, karena kami tak mengalami kesulitan berarti karena selain ditambah profil sprocket besar, karakter ringan frame mampu diajak kebutan di jalan menanjak.Di lintasan teknikal kami sedikit menyiksanya agar mengetahui seberapa peforma sepeda ini, carbon frame terkenal lebih bandel dibanding alloy frame karena memiliki poin utama yang tak dimiliki frame alloy dalam superioritas flexibility. Cukup impresif menjajal menuruni lembah berbatu dengan sepeda ini, guncangan tak terlalu terasa walau sepeda ini tak memiliki suspensi belakang, tapi peredamannya cukup signifikan, walau di beberapa section kami menemui beberapa overflex di roda belakang karena mungkin pemasangan TA12 di roda belakang bisa jadi solusi kedepan. Overall dengan sepeda harga 12 jutaan cukup rekomen lah jika brader berminat mencari alternatif carbon bike hardtail.

Overview:

Komponen 7/10

Harga 8.5/10

Bobot 7/10

Peforma 8/10

Tampilan 9/10

Foto:dokumentasi Braderian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: