SUSPENSI BELAKANG SEPEDA – BAGIAN I

Brader banyak yang bingung dengan istilah single pivot, multi link, faux bar, DW-link, VPP, Maestro, dan bermacam istilah lain? Banyak yang bingung dengan istilah yang merujuk ke sistem suspensi belakang yang terkadang mirip satu sama lain walau menjanjikan kinerja dan efisiensi pedalling dan penyerapan guncangan yang istimewa.

Berbeda dengan “saudara tua”nya sepeda motor, bentuk sistem suspensi belakang sepeda memang tidak (atau belum?) seragam. Hampir semua sistem suspensi belakang sepeda motor menggunakan sistem yang di sepeda disebut “single pivot”. Maksudnya adalah hanya ada satu poros (pivot) di antara frame utama sebagai titik netral sepeda (motor) dan as roda.

Sebelum lebih jauh, sejenak kita lupakan bagaimana rambatan guncangan menuju shockbreaker. Kita perhatikan bagaimana as roda belakang bergerak terhadap frame. Pada sepeda single pivot (dan umumnya sepeda motor) as roda bergerak dalam satu busur sempurna terhadap poros. Ini sistem paling simpel untuk pergerakan suspensi belakang. Selain sepeda yang jelas terlihat sebagai single pivot seperti Orange 329 dan Thrill Oust, sistem yang digunakan Polygon Siskiu atau Thrill Ricochet pada dasarnya adalah sistem single pivot.

Sistem, suspensi sepeda single pivot. Faux bar pada dasarnya adalah sistem suspensi single pivot. (foto: singletracks.com)

Selain sistem single pivot, mayoritas sepeda menggunakan sistem multi link. Sistem ini menghubungkan frame dan as belakang dengan lebih dari satu poros. Sistem FSR milik Specialized yang patennya habis awal dekade ini bisa dijadikan contoh. Di antara frame dan as roda ada dua poros, yang pertama di belakang dan sedikit lebih tinggi dari bottom bracket. Poros kedua ada di depan dan lebih rendah dari as belakang. Begitu pula sistem lain, baik sistem four bar lain dan sistem multi link seperti DW Link, VPP, dan Maestro. Berbeda dengan single pivot, pergerakan relatif as roda terhadap frame sepeda bisa didesain sedemikian rupa untuk mendapatkan karakter yang diinginkan.

Sistem four bar, poros kedua membuat gerak as roda terhadap frame bisa didesain sesuai kebutuhan

Sistem suspensi single pivot lebih simpel dan mudah didesain. Lalu kenapa desainer sepeda justru lebih banyak menggunakan sistem yang lebih ribet seperti four bar (seperti Horst Link, Split Pivot) atau multi link (seperti DW Link, Maestro)? Alasannya akan dijelaskan di Braderian.co. Pantau terus spot ini Brader.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: