REM DEPAN, KAWAN ATAU LAWAN?

Di bibir sebuah turunan tajam, seorang yang mengaku newbie berdiri, masih belum percaya diri dengan kemampunannya. Di ujung lain, rekan-rekan yang lebih mengaku expert menyemangati, ”Ayo, kamu bisa, jangan pakai rem depan. Aman!” Sang newbie pun memberanikan diri, jemarinya dalam posisi sigap memegang rem belakang, dan ………. beberapa meter kemudian ia terbanting karena ban belakangnya mengunci dan selip.


Brader pernah melilhat situasi seperti itu? Atau malah Brader sendiri yang pernah menjadi korbannya? Kenapa hal itu bisa terjadi?

Walaupun dianggap lebih aman, menggunakan rem belakang tanpa diimbangi rem depan sebenarnya kurang efektif. Saat pengereman, titik berat sepeda dan pengendara berpindah ke depan. Menurut pelajaran fisika SMA, gaya gesek berbanding lurus dengan tekanan yang diberikan antara dua permukaan. Artinya, semakin keras kita mengerem semakin tidak efektif penggunaan rem belakang.

Tapi mengapa banyak korban yang jatuh saat bersepeda akibat mengerem depan? Penyebab kecelakaan akibat rem depan dibahas mendalam John Allen meneruskan artikel yang dibuat Sheldon Brown. Di artikel ini, ia menyimpulkan kecelakaan terjadi bukan akibat tenaga rem depan semata-mata.

Banyak pesepeda yang mengandalkan rem belakang saat bersepeda normal. Bersepeda normal di sini maksudnya bersepeda saat keadaan terkendali dan obstacle yang ada dapat diantisipasi sebelumnya. Saat panic braking, atau keadaan yang membutuhkan pengereman tiba-tiba, lengan Brader tidak kuat menahan kekuatan rem depan dan membuat Brader terdorong ke depan. Demikian pula sebaliknya, jika Brader mengunci lengan untuk menahan kekuatan rem depan, badan menjadi kaku dan sepeda terpelanting dengan roda depan sebagai sumbunya.


Tips

Artikel ini memberikan tips untuk membiasakan penggunaan rem depan. Carilah tempat yang aman untuk berlatih, seperti tempat parkir yang kosong, atau jalan dengan lalu lintas yang sangat sepi. Gunakan rem depan dan rem belakang secara bersamaan, tapi pusatkan konsentrasi untuk mengatur kekuatan rem depan. Tambah tenaga sedikit demi sedikit hingga terasa ban belakang hampir mengangkat atau ban depan kehilangan traksi. Titik inilah batas maksimal pengereman sepeda.

Selain untuk membiasakan penggunaan rem depan, lakukan hal ini saat berganti sepeda dengan sepeda yang belum familiar. Pesepeda yang berpengalaman hampir selalu mengandalkan rem depan untuk melakukan pengereman. Walau begitu, ada pengecualian saat tenaga rem depan tidak diharapkan.

Yang pertama adalah saat ban tidak menyentuh tanah, misalnya saat melintasi jalan yang rusak, atau saat jumping. Mendarat dengan roda yang mengunci akibat pengereman dapat membuat roda memantul dan membuat pengendaranya jatuh “over the bar”.

Demikian pula saat jalan licin. Walaupun secara prinsip, pengereman roda depan maksimal masih berlaku, tapi licinnya jalan membuat power rem depan harus dikurangi. Apakah berarti tenaga dipindahkan ke rem belakang? Kurang lebih begitu, tapi karena lintasan yang diinjak tetap sama, sepertinya penggunaan rem belakang pun kurang efektif, setidaknya efek ekor ikan masih lebih baik daripada selip di ban depan.

Kembali lagi ke cerita di awal artikel ini, kenapa banyak yang menyarankan menggunakan rem belakang saja kepada pemula? Karena kemampuan penguasaan rem depan tidak bisa didapat secara instan, apalagi saat Brader sudah berada di bibir turunan. Lagipula, ini kesempatan langka untuk ngetawain teman. Rasain……..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: