CAR FREE DAY, TAK SEKEDAR BEBAS KENDARAAN BERMOTOR

Car Free Day atau hari bebas kendaraan bermotor pasti akrab di telinga Brader. Gagasan kegiatan ini mulanya bertujuan untuk memicu kesadaran masyarakat, bagaimana jadinya jika suatu kawasan tidak ada polusi udara dari kendaraan bermotor. Dengan harapan, jika masyarakat merasakan dampak positifnya maka akan meningkatkan kesadaran diri untuk mengurangi kebiasaan yang membuat polusi udara. Sedah jelas dampak utamanya adalah berkurangnya polusi dan bertambahnya kadar oksigen.

Suksesnya digelar di satu kota, kegiatan CFD begitu cepat diadopsi di kota yang lain, kini hampir semua kota besar di Indonesia menjalankan CFD. Di daerah baik kabupaten/kota memusatkan satu tempat dimana pada jam dan hari tertentu menggalakkan kegiatan yang bebas dari kendaraan-kendaraan bermotor. Biasanya kegaiatan CFD ini mengambil tempat di pusat kota/daerah setempat, dalam seminggu paling tidak ada satu hari antara pukul sekian sampai pukul sekian pengguna kendaraan bermotor dilarang melintas dan berlalu lalang di area CFD. Kegaiatan yang dilakukan di area CFD pun bermacam-macam, mulai bersepeda, jogging, lari senam pagi, maupun beberapa kegiatan pendukung yang mengarah ke pengurangan polusi kendaraan bermotor.

Menurut Ketua Bike to Work, Putut yang akhir pekan lalu ditemui Braderian mengatakan, “Pemakaian sepeda atau transportasi berorientasi hijau harus perlu digerakkan di masyarakat, hal ini bisa dilakukan dengan adanya kegiatan CFD di beberapa daerah yang ada di Indonesia”.

Sebagai informasi, Indonesia menjadi peringkat 8 besar pencemaran udara. Dengan fakta ini, tentu peran trasnportasi hijau dan peran acara seperti CFD menjadi penting guna mengurangi sedikit demi sedikit polusi yang terjadi.

BRADERIAN-CFD3

Areal Car Free Day yang ada di Jalan Raya Darmo, Surabaya (photo: @deviantart)

Sejarah Car Free Day sendiri bermula pada tanggal 25 November 1956 di Belanda yang melaksanakan Car Free Day setiap hari Minggu, kemudian Perancis pada tahun tahun 1995 melaksanakan pesta memperingati Green Transport Week di kota Bath, semua masyarakat turun ke jalan untuk merayakan acara tersebut. Inilah perjalanan panjang sejarah kegiatan Car Free Day , yang pada akhirnya kegiatan ini diperingati setiap tanggal 22 September di seluruh dunia.

Untuk di Indonesia sendiri kegiatan Car Free Day pertama kali dilaksanakan tahun 2001 di Jl. Imam Bonjol, Jakarta Pusat yang saat itu dilakukan penutupan jalan setelah beraudiensi dengan pihak kepolisian dan diputuskan oleh Irjen Pol Djoko Susilo untuk melakukan penutupan jalur sudirman – Thamrin dan pada saat hari bumi dan dilanjutkan tanggal 22 September 2002 yang berlangsung dengan sukses yang kelamaan dicetuskanlah untuk melakukan kegiatan Car free day dan mulai menyebar keseluruh penjuru dunia. Perayaan kegiatan car free sedunia serempak dilaksanakan oleh 1500 kota di dunia termasuk Jakarta, dihadiri 112 juta manusia lalu tersebar di berbagai kota-kota di Indonesia.

Nah itu tadi soal sejarah CarFreeday, lalu apakah Brader sudah paham dan tahu apa yang boleh dan tidak boleh di sepanjang area CFD? Yup, selain tidak diperkenankan untuk kendaraan bermotor berlalulalang, menurut Peraturan Daerah DKI Jakarta no 2 tahun 2005 tentang Pengendalian Pencemaran Udara dibahas dalam bagian ketiga soal Hari Bebas Kendaraan Bermotor. Berikut apa yang tidak seharusnya ada di Car Free Day yakni menyebarkan materi promosi yang menyebabkan sampah (flyer, brosur, stiker, poster), melakukan penjualan yang bersifat hard-selling, menggunakan genset yang berefek menambah polusi, serta kegiatan bertemakan otomotif, politik, sara dan rokok. Namun di beberapa kasus nyatanya masih banyak sekali pelanggaran diatas yang terjadi sepanjang penyelenggaraan CFD di tiap daerah.

“Semua harus kembali ke pribadi masing-masing dalam memahami esensi dari event CFD” begitu lanjut Putut.

Begitu banyak hal yang bisa dipetik dari kegiatan CFD yang tentu berjalan sesuai esensi awal acara ini digagas, selain menambah pertemanan karena dirasa ajang ini sebagai tempat berkumpul banyak orang jadi tak salah jika banyak komunikasi dan silaturahmi terjalin di dalamnya, menambah presentase tingkat kualitas udara. Dikutip dari Jawapos pada 2017 kemarin, angka penurunan pencemaran di Jakarta bisa ditekan sebanyak 80% dan itu menurut Braderian cukup bagus.Jadi bagaimana Brader? Siap mengembalikan esensi awal di area CFD? Tetap jaga lingkungan sekitar untuk kehidupan di masa depan yang lebih baik!.

  1. Bersama menuju indonesia yang lebih sehat. Hijau sejuk indonesia kita mencerminkan budaya masyarakat yang sehat

    Suka

    Balas

    1. Setuju, terima kasih Brader, dukung terus budaya sehat. 🙂

      Suka

      Balas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: