STORTA, MOTOR ATAU SEPEDA?

Mengambil salah satu quote dari Steve Jobs, “Let’s go invent tomorrow instead of worrying about what happened yesterday”. Teknologi dimulai dari visi kedepan yang kemudian disambut dengan creation, yang tidak perlu dihalang-halangi sejauh tidak merusak martabat manusia dan alam.

Sepeda konvensional sendiri nyatanya adalah sebuah teknologi. Bahkan baru-baru ini PBB dalam deklarasinya mengakui bahwa dengan sepeda, pengguna lebih dapat memicu kreatifitas, keterlibatan sosial dan memberi kesadaran pengendara secara langsung tentang lingkungan sekitar (baca artikel ini). Teknologi terus berkembang, pun juga sepeda.

Dalam artikel kami sebelumnya, pedelec makin populer (baca: APA ITU PEDELEC, SAMAKAH DENGAN E-BIKE?) namun pro-kontra antara pihak yang membuka lebar menerima teknologi dan pihak yang tetep kekeuh setia dengan sistem mekanisme konvensional telah terjadi sedikit perdebatan. Tidak perlu diperdebatkan, yang pasti teknologi dan pemanfaatannya terus mengalir, tinggal brader mau turut menikmatinya atau tidak.

Sistem pedelec sejatinya teknologi yang melakukan pendekatan sangat manusiawi karena tetap mempertahankan mekanisme kayuh. Motor listrik yang menghasilkan energi untuk mensupport kayuhan yang dipicu dari kayuhan itu sendiri. Secara filosofi teknologi ini sebenarnya sangat respect dengan esensi bersepeda.

Banyak yang kontra dengan teknologi ini karena menganggap seperti “sepeda motor”, kebanyakan karena mereka serta merta menyamakan dengan konsep e-bike. Padahal e-bike punya cakupan yang lebih luas, diklasifikasikan menjadi pedal-assist dan power-on-demand atau kombinasi keduanya. Dianggap bahwa pokoknya e-bike itu motor (bukan sepeda). Apakah mereka keliru? sekali lagi tidak perlu diperdebatkan.

Satu teknologi muncul maka teknologi yang lain juga akan dikembangkan. Pengaplikasian teknologi tersebut juga terus berkembang. Seperti halnya pedelec, baru-baru ini salah satu industri bike custom asal Italy bernama OFFICINE RIGA memanfaatkan pedelec untuk mendukung moda transportasi dengan gaya pendekatan yang berbeda dengan Industri sepeda pada umumnya. Cek foto berikut:

Storta adalah tipe yang dirilis Officine Riga, mengusung sistem pedelec membuat konsumen ragu apakah sepeda-motor atau sepeda? Jika Brader melihat ada pedal di situ, mungkin Brader berpikir bahwa Storta adalah sepeda. Namun jika melihat desain secara keseluruhan Storta tampak seperti sebuah motor berdesain kombinasi aliran Jepang dan Italia.

Ibarat seperti kebingungan melihat penampilan baru tokoh Vision dalam Avengers: Infinity War, robot atau manusia?

Teknologi itu fleksibel, yang dalam konteks ini bisa lebih respect terhadap filosofi sepeda kayuh atau sebaliknya mengkhianati konsep sepeda konvensional tergantung dari pemanfaatannya.

Yang penting, teknologi tidak perlu dihalang-halangi sejauh tidak merusak martabat manusia dan alam”, Fendi – Braderian

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: