PALU: KOTA LIMA DIMENSI

Melihat pemandangan di luar kabin melalui jendela pesawat saat landing, barisan pegunungan yang terlihat kering diselingi pepohanan liar yang tak begitu rindang, didominasi warna abu kecoklatan, saya melihatnya seperti tidak di Indonesia, saya pikir saya salah jurusan, turun di negeri orang. Ternyata benar, saya turun di Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu, Sulawesi Tengah.

Cukup sering saya mendarat di Sulawesi terutama ke Makassar, sekali ke Manado, sekali ke Gorontalo, Bone dan Palopo sudah pernah, namun ini adalah perjalanan pertama saya ke Palu. Palu memberikan impresi yang berbeda dari kota di Sulawesi lainnya.


Bandara kebanggaan Palu

Bandara Mutiara Sis Al Jufri, Palu.

Beruntungnya saya mendapati Bandara Mutiara Sis Al Jufri yang telah diperbarui sejak tahun 2016. Bandara ini cukup bagus untuk ukuran bandara lain di Indonesia, bandingkan saja dengan beberapa bandara di Jawa, menurut saya Bandara Mutiara Sis Al Jufri lebih bagus dibanding bandara di Solo, Malang, atau Semarang. Desain yang mempesona, fasilitas yang memadai, Bandara Mutiara Sis Al Jufri juga sudah ada fasilitas garbarata. Garbarata sangat terasa manfaatnya di Palu, mengingat Palu merupakan kota yang memiliki curah hujan paling rendah di Indonesia, sehinga brader tidak langsung tersengat matahari ketika keluar dari pesawat.


Kuliner Khas Palu, Kaledo!

Keluar dari bandara, brader bisa mencari taxi untuk menuju ke kota. Menggunakan taxi resmi bandara, saya mengeluarkan uang Rp. 120.000 untuk mencapai kota. Kebetulan lokasi yang saya tuju lumayan jauh, bisa kurang dari 120 ribu kalau hanya sekedar sampai di tengah kota. Tidak ada kemacetan sama sekali selama perjalanan dari bandara ke kota. Kota tampak bersih dan rapi. Jalanan tampak lenggang, tak sampai 25 menit kami sudah sampai di tengah kota.

Hasil ngobrol singkat dengan driver, saya memutuskan untuk menuju Warung Makan Kaledo Stereo di Jl. Diponegoro, seberang Palu Grand Mall, di pinggir pantai. Katanya, di sana Kaledo paling top di Palu. Kaledo singkatan dari Kaki Lembu Donggala adalah makanan khas Palu. Mirip seperti Sop Buntut namun menggunakan daging yang menempel pada kaki. Konon, masyarakat Palu menikmatinya bukan dengan nasi melainkan dengan ubi. Kini banyak warung makan menyediakan nasi.

Kaledo, Kaki Lembu Donggala, salah satu kuliner wajib Palu.

Benar saja, menambahkan sambal & garam ke dalam kuah, “mengkrokoti” dagingnya dan mengisap sedikit demi sedikit kuahnya, hmmm.. mantab, ini kuliner wajib di Palu! Jika brader pernah mencoba Coto Makassar atau Palu Basa khas Makassar, Kaledo punya cara yang berbeda untuk memikat penikmatnya, kuahnya lebih sederhana dan lebih bening tapi tak kalah nendang.


Sayang, tujuan saya ke Palu bukanlah untuk liburan jadi saya hanya sempat menyinggahi tempat-tempat yang tidak jauh dari urusan pekerjaan saya. Setelah makan siang dan menyelesaikan beberapa urusan, saya menuju hotel tempat saya menginap. Saya pilih Hotel Santika, karena terletak di tengah kota, dekat dengan segala urusan saya di Kota Palu.

View Kota Palu dari jendela Hotel Santika. Beruntung, saya mendapatkan gerimis, membuat udara Palu lebih sejuk dari biasanya.

Sampai di kamar hotel, dan melempar pandangan ke luar jendela, saya baru menyadari bahwa kota ini sangatlah indah! Salah satu pemandangan kota terbaik di Indonesia yang pernah saya singgahi. Dari kamar lantai 5 Hotel Santika, saya melongok keluar jendela, sepanjang 180° pandangan saya melihat bantaran pegunungan serta teluk yang menjorok ke kota. Saya menyuka gunungnya, menyukai lautnya!

Tak salah, kota ini memiliki julukan Kota Lima Dimensi karena landscape alamnya yang lengkap meliputi: lembah, lautan, sungai, pegunungan, dan teluk. Keren yak!

Saya tidak bisa menggambarkan keindahannya dengan sempurna melalui foto di blog Braderian ini, tapi saya yakin dengan googling brader akan menemukan foto-foto indah Palu. Di sekitar Ibukota Sulawesi Tengah ini, pandangan mata tidak putus melihat deretan bukit yang ditumbuhi pohon-pohon liar dan garis pantai sepanjang kota. Sesekali brader akan melintasi gunung kapur dan lembah berusia puluhan tahun.

Kembali mengenai hotel, kalau brader punya tujuan liburan atauh bahkan berpetualang di Palu, saya sarankan pilih hotel atau penginapan di tepi pantai atau pilih villa di sekitar bukit, brader akan dapat view yang lebih mempesona di sana.


dilalui garis pantai di seluruh kota

Saya pernah melihat pemandangan yang mirip seperti ini, yakni di Jayapura. Palu tak kalah eksotisnya dengan Jayapura.


Kawasan Ekonomi Khusus

Kita sadari bahwa di pemerintahan Presiden Jokowo saat ini Indonesia sedang digalakkan pemerataan pembangunan, terutama pembangunan di luar Jawa. Aura pembangunan yang signifikan juga saya rasakan di Palu. Termasuk dalam Kawasan Ekonomi Khusus (KEK) Palu yang diresmikan di tahun 2017, tak ayal progress pembangunan infrastruktur Kota Palu sangat terasa. Meski saat ini tata kotanya masih belum tertata dengan baik, potensi alam dan geografisnya menurut saya sangat menjanjikan. Saya yakin beberapa tahun lagi Kota Palu akan tumbuh cepat dan jauh lebih baik.

View dari Palu Grand Mall

Eiffel Tower di Palu

Ekonomi masyarakat sedang bertumbuh, sektor pariwisata sedang bergeliat di Palu. Di sepanjang pantai brader akan menjumpai tempat-tempat singgah untuk relax menikmati pemandangan. Ada beberapa resto seafood, banyak juga yang menjajakan kelapa muda. Oh ya, pastikan brader mencoba kelapa muda dengan gula aren (brown sugar), rasanya sangat spesial! Mereka juga tampak belomba menarik pengunjung dengan kreatifitas membangun aneka konstruksi unik membentuk bangunan terkenal dunia. Brader akan menjumpai miniatur menara eiffel, menara pisa, bahkan tugu monas!

Kelapa muda dengan gula aren khas Palu!


Bangunan Ikonik

Tak sulit menemukan bangunan ikonik Kota Palu ini, Jembatan Ponulele yang membentang di atas Teluk Talise mudah ditemukan jika brader menyusuri pantai. Konon katanya Jembatan Ponulele ini merupakan jembatan lengkung pertama di Indonesia dan ketiga di dunia setelah Jepang dan Prancis, entah benar atau tidak, informasi tersebut saya dapat dari salah satu masyarakatnya.

Jembatan Ponulele terletak di Teluk Talise

Jembatan Ponulele tampak lebih berwana kala malam

Masjid apung di tepi pantai

Apa yang bisa brader lakukan di Palu?

Selain apa yang sudah saya sebutkan di atas, geografis Palu akan  menjadi daya tarik paling kuat. Saya yakin, jika terus dikembangkan aktifitas olahraga air akan terus berkembang. Saat ini saja masyarakat di sana punya kebiasaan berenang di pantai setiap pagi, terutama di hari Minggu.

Jalan kota di sepanjang garis pantai juga seru digunakan untuk bersepeda, sesekali saya melihat komunitas sepeda berkelompok menyusuri pantai. Meski saya belum mengunjunginya langsung, namun jika googling, brader akan temukan beberapa pantai dan tempat wisata eksotis di Palu. Cek saja: Pantai Tanjung Karang Donggala, Pantai Talise, Danau Poso, Pusentasi Laut Donggala, Air Terjun Saluopa, Pulau Lutungan, dan Pulau Pasoso.

 

/fendiaw

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: