REVIEW: THRILL FERVENT 1.0 2018

Pabrikan sepeda Thrill kembali mengeluarkan varian terbarunya untuk genre XC atau Cross Country, dengan frame tipe full-suspension – travel 120mm. Menjadikan Thrill Fervent bisa diajak di medan offroad terutama bagi brader yang baru mengenal sepeda dan berkeinginan beralih ke sepeda tipe full-suspension. Braderian berkesempatan menjajal line-up 2018 Thrill Fervent ini, untuk ulasan kali ini Braderian memakai unit test seri tertinggi yakni 1.0 yang dibanderol sekitar 6,4jutaan.

Varian Fervent 2018 kali ini sepintas memiliki perubahan mayor, terutama dari bentuk tubing frame lebih bersiku ketimbang seri sebelumnya sehingga berdampak pada penampilan dan bobot. Fervent masih memakai material alloy seri 6061. Di line-up terbaru ini masih mengadopsi sistem single pivot point untuk sistem suspensi yang digunakan. Dengan perubahan panjang travel dari 165 mm menjadi 190 mm tentu menjadikan seri terbaru ini lebih banyak meredam benturan tanpa banyak mengalami bottom out ketika menghantam obstacle lebih keras di medan XC.

Seakan menjadi pakem sepeda MTB terkini, Fervent sudah mengadopsi inner routing cable, menjadikan tampilan sepeda lebih rapi. Namun bukan jadi tanpa alasan untuk menginspeksi kondisi perkabelan di sepeda ini. Beberapa kali kami menemukan kotoran dan sisa air yang mengendap di beberapa titik jalur routing. Contohnya seperti kotoran yang mengendap pada bagian downtube.

Di beberapa titik rawan pada frame, Thrill menambahkan gusset untuk memperkuat desain rangka, supaya lebih tangguh dalam menghadapi kemungkinan stress seperti di area bawah seatpost atau ujung seattube, atau di bagian upper linkage yang biasanya salah satu titik stress terbesar di frame. Thrill solutif merekayasa pengelasan supaya kekuatan frame selalu prima sepanjang brader bersepeda XC.

Thrill Fervent 1.0 ini dilengkapi fitur postmount rear discbrake yang menjadi point kesukaan kami karena selain dapat memangkas bobot, fitur ini mampu memberi sedikit brake effect yang lebih stiff daripada fitur IS yang harus memasang lebih banyak baut untuk clamp kaliper. Good job Thrill!

Fitur Internal Routing Cable membuat tampilan Thrill Fervent lebih rapi dan profesional.

Untuk finishing, Thrill masih setia dengan pewarnaan frame yang memakai corak warna minimalis dengan penempatan identitas brand di bagian samping dan di bawah downtube. Menurut kami penempatannya sangat eyecatchy dan elegan, keren!. Thrill merilis beberapa varian warna dari versi tertinggi 1.0 dengan varian warna silver-orange atau green-orange serta varian 2.0 dan 3.0 yang lebih beragam.

COCKPIT dan WHEELSET
Nampaknya Thrill ingin memperkuat nuansa “satu merk” pada Thrill Fervent mereka, terbukti dengan bertebarannya identitas Thrill (logo) mulai dari seatpost, sadel sampai handlebar dan wheelset yang berlabel Thrill. Ownbrand pun dirasa jitu untuk menekan harga sepeda karena tak memasang embel-embel brand tertentu di luar Thrill. Menurut Braderian ini sangat bagus, nampak Thrill serius membangun own-brand mereka. Meski sebagian dari brader mungkin menganggap ownbrand hanya sebelah mata, tetapi nyatanya spesifikasi dan kualitas dari part yang menempel di Thrill di sektor kemudi pun cukup mumpuni, kita perlu apresiasi!

Thrill harus terus bekerja keras hingga tahun-tahun mendatang untuk memperkuat brand dan membangun kepercayaan pasar, kami yakin jika mereka konsisten maka respon pasar semakin positif terhadap brand Thrill

 

Thrill semakin serius membangun own-brand di beberapa parts sepeda, menurut kami cukup impressive!

Handlebar dengan panjang 600mm berpadu stem yang menyesuaikan, membuat nyaman dan tak perlu opsi penggantian di bagian steering. Seatpost 2 bolt diameter 30.9 dengan panjang 350mm dipadu sadel Thrill pun cukup menambah kenyamanan. Sementara di sektor roda, Thrill mempercayakan ban Deli Tire 27.5×225 yang direbranding Thrill dengan kembangan cukup untuk dihajar di lintasan XC kering dan basah, dipadu dengan rims Thrill dan hubset dari Shimano nonseries cukup loncer untuk diajak kebut-kebutan. Namun isu bobot keseluruhan wheelset jadi poin pertimbangan Braderian bagi brader yang meminang sepeda ini, wheelset cukup berotot dengan konsekuensi handling yang sedikit berat namun cukup kuat dan durrable untuk diajak sedikit kasar.

SUSPENSION
Spesifikasi Thrill Fervent 1.0 yang merupakan varian tertinggi seri Fervent di lineup 2018 ini membawa perubahan dibanding seri sebelumnya, karena selain bentuk frame spesifikasi nya pun ada banyak perubahan. Seperti pemakaian rearshock DNM dengan eye-to-eye 190 mm dengan dilengkapi sistem dual air yang bisa di set sesuai peruntukan pengendara, katup atas untuk men setup SAG dan katup air bagian bawah untuk sistem damping atau mengatur kecepatan pantul kembali rearshock setelah mengalami tekanan dan shock stroke. Untuk damping ini sudah direkomendasikan tekanan default pabrikan DNM, jadi soal katup bawah saran Braderian jangan diutak atik karena akan sedikit kesulitan mencari set yang tepat untuk damping.

Fitur yang ada di rearshock pun cukup lengkap, dari mulai rebound maupun kuncian lock untuk dipakai ketika menghadapi medan yang butuh lebih banyak pedaling agar kayuhan menjadi efisien, untuk tuas-tuas pengaturan ini jaga selalu agar tetap bersih dan terlumasi jika dibutuhkan karena Braderian menemukan sedikit keras ketika mengoperasikan tuas-tuas ini dan ada kemungkinan kotoran banyak yang hinggap sehingga mempengaruhi kinerjanya.

Fork SR SUNTOUR XCM Coil 120mm dipadu DNM shock Dual Air 190MM memberikan efek peredaman yang cukup responsif.

Peredaman di bagian depan pun cukup mumpuni diredam dengan fork tipe coil spring dari SR Suntour seri XCM stanchion 30 dengan travel 120 QR yang memiliki fitur Tappered crown dan match dengan frame Fervent yang juga tappered headtube yang menambah stiff dalam segi peforma, namun isu bobot menjadi pertimbangan fork yang hanya memiliki fitur lock dan preload ini karena dirasa Braderian cukup berat dan menambah bobot fullbike secara keseluruhan. Mungkin opsi upgrade ke fork dengan bobot lebih ringan cocok untuk mendongkrak diet bobot secara signifikan. Namun tentu opsi tipe tappered perlu diingat karena teknologi fork di bawaan pabrikan sudah cukup mumpuni.

DRIVETRAIN
Sistem percepatan 3X9 speed dari Shimano menjadi fitur pendukung dari Thrill Fervent untuk diajak bermain di medan offroad XC, dengan shifter Shimano Altus berpadu dengan RD Shimano Acera dan FD Alivio berpadu dengan rantai YBN 9 Speed dan sprocket shimano Hyperglide berprofil 11-34T menjadikan proses shifting halus khas shimano dan kayuhan cukup ringan untuk melibas medan-sedikit terjal. Namun ada point penting di awal memakai sepeda ini di trek yang memiliki kontur beragam yang mengharuskan proses shifting yang cepat masih belum bisa diakomodasi drivetrain di Fervent ini, namun tak jadi soal untuk brader yang masih belajar soal shifting atau jika meminang sepeda ini perlu dipikirkan opsi upgrade ke lineup lebih “serius” jika untuk brader yang sangat kritis soal peforma dan tentu akan meningkatkan value full-bike Fervent ini.

Dengan 3X9 sistem percepatan rasio yang variatif sangat adaptif di kontur jalur yang variatif.

Di sektor crankset, Thrill Fervent memakai crank tipe outboard bearing bottom bracket dengan brand Prowhell berspesifikasi triple chainring dengan profil konfigurasi gear 22-32-44T dengan panjang crankarm 170mm. Berbentuk berongga di poros spindle cranknya cukup efektif menekan bobot sepersekian gram dan menurut Braderian ini cukup smooth untuk setiap kayuhan, namun bagi brader yang kurang suka dengan konfigurasi triple chainring bisa melepas chainring terluar untuk dipasangi double atau bahkan single untuk meminimaliskan pengoperan di bagian depan.


RIDE ON!

Pertama kali Braderian melihat sepeda ini terfokus di sistem suspensinya, bentuk sistem suspensi berbasic single pivot point biasanya sangat rawan terjadi boobing sehingga kurang efektif untuk pedaling karena pergerakan suspensi akan sangat aktif mengikuti pedal stroke dari kayuhan.

Namun ada beberapa bagian di sistem suspensi ini yang bisa sedikit mengisolasi gejala boobing berlebih sehingga sewaktu Braderian tes di medan menanjak sekalipun tidak terlalu terjadi boobing yang berarti, good!

Perlu menjadi catatan bagi brader sebelum menjajal sepeda ini harus menset SAG dan rebound damping nya agar mendapat shock stroke yang sesuai dengan karakter riding, karena hal ini sangat vital untuk mengakomodasi peforma shock terhadap riding style dan medan yang dilalui.

Bentuk top tube yang ber-step di bagian depan menjadikan Thrill Fervent sangat responsif di tanjakan, namun harus ada sedikit penyesuaian posisi stem dan tinggi spacer agar traksi depan bisa di dapat maksimal. Braderian menset spacer dibawah stem berjumlah sebiji untuk mengakomodasi traksi yang maksimal di bagian roda depan, terutama di medan menurun.

Peforma rearshock di medan menurun berbatu cukup efektif meredam guncangan dan roda belakang tetap terjaga menapak tanah, namun untuk roda depan cukup liar jika diajak bermanuver di medan menurun karena traksi roda depan kurang bisa tetap menapak di tanah, ada kemungkinan bentuk geometri top tube Fervent yang ber-step di bagian depan tadi memaksa posisi badan agak condong sedikit kedepan agar roda depan mendapat traksi lebih baik namun jangan terlalu berlebih karena di medan menurun posisi grafitasi brader harus tetap berada di belakang sepeda, kalau keliru yang terjadi akan OTB atau over the bar yang bahasa lokalnya terjungkal.

Peforma braking agaknya jadi point vital di ulasan kali ini, berdiameter 160mm di kedua rotor brake dan dipadu brake dari Shimano non series agak kurang efektif jika dipaksa melakukan pengereman dalam jangka pemakaian yang panjang, karena beberapa kali Braderian menemukan perubahan modulasi yang mungkin imbas dari kurangnya pelepasan panas berlebih di brake rotor dan pad. Namun overall cukup mumpuni dalam hal kepakeman dan dengan sedikit mengenali karakter modulasi brake agaknya opsi upgrade bisa dialihkan ke part lain.

UKURAN
Tersedia dalam tiga ukuran yang mengakomodasi postur brader yakni S, M dan L menjadikan opsi ini bisa dijadikan acuan agar tak terjadi salah ukuran sepeda, karena hal ini cukup berpengaruh di bagian seatpost yang tak bisa diturunkan sampai titik terendah seatpost karena bentuk seattube yang melengkung di bagian dekat rearshock menjadikan peran pemilihan ukuran jadi penting, karena di medan menurun yang sedikit curam biasanya harus menurunkan seatpost agar posisi badan lebih leluasa untuk berdiri tanpa mengubah posisi badan karena terhalang sadel di seatpost.

Pertimbangan upgrade bisa dilakukan brader terutama di bagian komponen handgrip, karena tak memiliki mekanisme locking ring menjadikan sering selip dari handlebar dan menjadi kurang nyaman jika diajak di rute-rute yang butuh genggaman mantab di handlebar. Dan jangan lupa untuk men set panjang handlebar dan seatpost yang sesuai dengan riding style agar semakin nyaman diatas sepeda ini.

OVERALL
Secara keseluruhan peforma sepeda bergenre XC ini cukup impresif untuk spek dan rentang harga serupa, opsi upgrade nampaknya perlu jadi pekerjaan rumah bagi brader yang cukup “gatal” soal bobot dan peforma, namun diluar itu spesifikasi bawaan Fervent 1.0 pun sudah cukup untuk brader yang mulai serius bersepeda dan ingin mencoba sepeda fullsuspensi dengan kisaran harga yang tak terlalu menguras saldo rekening. Good job Thrill!

 

SPESIFIKASI

New Fervent 1.0 2018
FRAME ALLOY 6061 INNER CABLE
REARSHOCK DNM AIR E2E 190mm RL
FORK SUNTOUR XCM 120MM HLO
SHIFTER SHIMANO ALTUS M310 27SPD
FD SHIMANO ACERA
RD SHIMANO ACERA M390 9SPD
BRAKESET SHIMANO M315 HYDROLIC
HBAR THRILL 31.8X700MM
GRIP VELO
STEM THRILL 31.8X60MM
SPOST THRILL 30.9MM
PEDAL ALLOY
CRANKSET PROWHEEL 44/32/22T HOLLOWTECH II
CHAIN YBN
SADDLE THRILL PRO RACE
RIMS ARAYA 32H ALLOY DOUBLEWALL 32H
HUB FREEHUB SHIMANO TX-505 32H CENTERLOCK
TIRE DELI 27.5X2.25
  1. Mantap review nya om..
    Kebetulan lagi nimang-nimang antara thrill fervent 1.0, thrill ricochet 1.0, adrenaline xc 1.0 dan Patrol 511
    Kalau berkenan boleh minta 2nd opinion nya om diantara unit diatas kira-kira yang mana yang lebih bagus perbandingan price to performa nya?
    Terimakasih

    Suka

    Balas

    1. Keempatnya memakai basic sistem suspensi yang sama walau tentu ada pengubahan di masing-masing brand namun keempat sepeda tersebut memiliki tahun lineup yg berbeda, Profil roda juga berbeda, ada yg 26 dan 27.5. Pilih 26″ atau 27,5″? Om juga perlu mempertimbangkan harga & kebutuhan.

      Suka

      Balas

      1. Preferred yang 27.5″.
        Kebutuhan untuk jalan aspal sekaligus offroad ringan naik/turun gunung om.
        Budget gak lebih dari 10jt.

        Suka

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: