ENDURO ATAU ALL MOUNTAIN?

Pertama kali muncul pada tahun 2003 dengan mengacu pada format balap motor Paris Dakkar, lalu dikembangkan format race yang berbeda dengan menyatukan aspek endurance, technical, dan fitness. Maka pada tahun 2013 digagas sebuah format race baru di dunia sepeda yakni Enduro dengan konsep World Series dan terbagi atas berbagai macam stage dan seri.

Paris Dakkar Race 2003.

Enduro sendiri bisa dikatakan “jelmaan” genre All Mountain yang lebih dulu tersohor di dunia sepeda, namun para pelaku scene ini mengatakan bahwa Enduro merupakan race scene yang di dalamnya ada kompetisi “melawan” waktu seperti pada Downhill dan ketahanan fisik seperti di XC Race. Untuk race endure sendiri jika berkiblat pada regulasi yang ada (karena memang UCI belum mengeluarkan regulasi resmi) terbagi atas beberapa aspek. Dari mulai Equipment (sepeda, protector, logistic), format balap (pehitungan waktu, point, jumlah stage per seri) sampai penalty yang berupa hukuman penambahan waktu atau diskualifikasi pada kategori hukuman tertentu.

Perlengkapan bersepeda all mountain.

Equipment biasanya selain pada kelengkapan keamanan rider juga scrutening/mengecek dan menandai parts sepeda apa saja yang digunakan. Biasanya berupa penempelan sticker di beberapa tempat seperti fork crown, frame (bagian depan dan belakang), dan wheelset (depan dan belakang). Untuk hal ini dimaksudkan agar peserta tidak mengganti parts ketika race berlangsung, dan apabila terpaksa melakukan karena force majeur tertentu akan dikenakan penambahan waktu sebanyak lima menit.

Format balap untuk enduro sendiri akan dirasa awam bagi sobat Braderian yang belum tahu atau belum pernah mengikuti. Dibagi atas beberapa Special Stage (SS)per seri (regulasi minimum sebanyak 3 stage), dan tiap “penghubung” SS ada berupa Liason Stage (LS). Penghitungan akumulasi waktu selama race dicatat ketika rider berhasil melalui SS dalam satu seri, sedangkan LS tidak dilakukan penghitungan waktu, namun memiliki batasan waktu yang harus ditempuh dan akan ditambahkan ke catatan waktu jika batasan waktu di LS melebihi regulasi yang ditentukan.
LS biasanya berupa loading rider dengan menggunakan kendaraan atau bikelift (jika ada) dan dalam setiap seri harus ada LS berupa pedaling power atau uphill dengan jarak dan elevasi tertentu untuk mencapai SS.

Event race Enduro di Indonesia semakin marak mulai 2016 hingga kini.

Nah…. setelah akumulasi catatan waktu tiap SS tersebut bisa dirangking pembalap tersebut menempati rangking ke berapa tiap seri nya dan akan diakumulasi di akhir musim dengan system poin untuk menentukan GC (General Classification). 

Di Indonesia format ini sudah ada sejak 2012, waktu itu bernama Castle Enduro yang berlangsung di Puncak, Jawa Barat. Sedangkan kita langsung ke 2017 dimana seri ke 2 Induro (Indonesia Enduro) akan berlangsung bulan Maret ini di Klagon, Yogyakarta. Sobat Braderian tertarik?
Disadur dari EWS book rule 2016. Foto: Icebike.org 

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

w

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d blogger menyukai ini: